Qurban

Image
(sumber: sebuahkonsep.wordpress.com)

Nabi Ibrahim masih sedikit agak tidak percaya. Bisikan dalam mimpi itu terus menerus terngiang-ngiang di telinganya. Seakan bisikan itu baru saja didengarnya. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam dadanya. Mana mungkin aku menyembelih anakku sendiri? Ayah macam apa yang tega menyembelih darah dagingnya sendiri?

Terbayang pula dalam benak Nabi Ibrahim bagaimana dulu dia yang telah begitu lama mengharapkan kehadiran seorang anak. Anak yang akan menjadi penghias mata. Seorang buah hati yang akan menghiasi hari-harinya dengan penuh makna. Seorang anak yang akan menemaninya berdakwah kepada kaumnya. Seorang anak yang akan mewarisi tugasnya sebagai pemberi peringatan kepada kaumnya untuk menyembah kepada Allah saja.

Masih terbayang pula bagaimana susah payahnya, istrinya Siti Hajar saat melahirkan anaknya Ismail. Sendirian di padang pasir tanpa ada seorang manusia yang menemani. Siti Hajar yang kebingungan dan berlari bolak-balik di tengah padang pasir yang gersang antara Shafa dan Marwa. Mungkinkah dirinya tega mengorbankan anak yang selama ini begitu didambakan kehadirannya di sisinya?

Namun satu keyakinan kuat cukup untuk menghapus segala kegalauan yang ada. Keyakinan atas kekuasaan Allah pemilik segala sesuatu. Allah pencipta dan penguasa alam semesta ini. keyakinan yang menyadarkan bahwa segala sesuatu adalah milik-Nya dan hanya kepada-Nya semua akan kembali.

Allah-lah yang mengamanahkan anak kepadanya dan Allah pula yang berhak memintanya. Demikian keyakinan Nabi Ibrahim itu. Allah pula yang telah menjaga Ismail dan Siti Hajar di tengah padang pasir saat Ismail lahir dulu. Layakkah diri ini menolak apa yang bukan haknya? Itulah keyakinan yang lebih menguatkan tekad Nabi Ibrahim.

Keyakinan dan kesadaran itulah yang menguatkan tekad Nabi Ibrahim untuk mengikuti apa yang diperintahkan melalui mimpinya itu. setelah merasa kuat dan yakin bahwa mimpi itu adalah perintah Allah, Nabi Ibrahim pun menceritakan mimpinya itu kepada anaknya, Ismail.

“anakku Ismail sesungguhnya aku bermimpi Allah telah memerintahkan aku untuk menyembelih engkau,” tutur Nabi Ibrahim dengan tenang walaupun dengan perasaan bergemuruh di dada.

“benarkah itu wahai ayahanda? Benarkah mimpi itu adalah tanda dan perintah Allah?” Ismail bertanya untuk meyakinkan apa yang didengarnya.

“Ya benar, anakku. Allah telah memerintahkan aku melalui mimpi yang membuat diriku tidak tenang beberapa hari ini,” sahut Nabi Ibrahim seakan meminta pendapat dari Ismail. Segala perasaan manusiawinya kepada anaknya coba untuk dihalau demi memenuhi perintah Tuhannya.

“baiklah ayahanda, jika memang ini adalah perintah Allah apalagi yang mesti kita ragukan. Mari kita segera melaksanakan perintah-Nya,” ujar Ismail dengan ketegaran dan ketabahan dari seorang anak yang amat berbakti kepada Allah dan orang tuanya.

Nabi Ibrahim tak tahan dan segera memeluk erat anaknya Ismail. Tak terasa air mata mengalir dari kedua matanya. Rasa haru dan bangga bercampur menjadi satu dalam hatinya. Di satu sisi Nabi Ibrahim bersyukur atas karunia anak yang soleh. Di sisi lain Nabi Ibrahim tak bisa menyembunyikan rasa sedih karena akan segera berpisah dengan anaknya akan akan dikorbankannya.

Dan tibalah hari itu. hari dimana Nabi Ibrahim akan menyembelih anaknya Ismail demi menjalankan perintah Allah yang diterimanya melalui mimpi. Kedua ayah dan anak itu pun melangkah dengan tenang sambil bergandengan tangan. Tak lupa mereka berpamitan kepada Siti Hajar yang dengan berat hati merelakan kepergian keduanya. Sungguh keluarga yang amat soleh yang tidak pernah mengeluh atas segala ketetapan Tuhan kepada mereka, walaupun begitu sulit untuk diterima.

Iblis pun melirik keluarga itu dengan sikap yang tidak senang. Berbagai upaya coba dilakukan untuk mencegah Nabi Ibrahim tidak jadi melaksanakan perintah Allah. Berbagai rayuan dan tipuan pun coba dibisikkan kepada mereka. Namun, mereka tetap teguh dengan tekadnya.

Siti Hajar yang mengetahui Iblis yang berusaha menggoda Nabi Ibrahim dan Ismail pun melempari Ibis itu dengan batu. Demikian juga dengan Ismail. Segala sesuatu yang berusaha menghalangi tekad mereka untuk ingkar kepada perintah Allah berusaha mereka singkirkan. Subhanallah!

Tempat yang dituju pun telah tiba. Ismail dengan tenang dan ikhlash rebah di atas batu besar. Nabi Ibrahim bersiap mengayunkan pedangnya di leher Ismail. Dengan membaca doa dan zikir memohon keridhoan Allah. Dan, mukjizat Allah pun terjadi. Seekor dombalah yang telah disembelih oleh Nabi Ibrahim. Allah telah menerima keikhlasan dan keteguhan hamba-Nya. Maka, digantilah Ismail dengan seekor domba sebagai jawaban atas diterimanya keridhoan Allah kepada keluarga Nabi Ibrahim.

Allahu akbar! Subhanallah!

Rasa syukur pun tak henti-hentinya diucapkan oleh Nabi Ibrahim dan Ismail atas peristiwa ini. kedua ayah dan anak itu pun kembali berpelukan dengan terus berucap syukur kepada Allah.

Demikianlah sekelumit kisah yang diabadikan di dalam al-Quran dan terus diperingati setiap hari raya idul adha atau hari raya qurban. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kisah ini.

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s