Reborn

sumber: synaps.wordpress.com

Kemarin sore secara ga sengaja saya mendengarkan program di salah satu radio. Tumben-tumbenan juga sih saya dengerin radio karena dah cukup lama ga dengerin radio. Kebetulan aja karena saya msh di perjalanan pulang dan pengen tau waktu azan magrib dan waktu untuk buka puasa, saya menyetel radio di hape saya. Saat mencari stasiun yg menyiarkan azan magrib inilah sy berhenti di satu stasiun radio dengan frekuensi fm 105,0 MHz. Saya begitu tertarik dengan bahasan yang sedang diperdengarkan. Saya sendiri ngga ngerti stasiun itu sedang siaran program apa, tapi bahasannya menurut saya begitu menarik perhatian saya.

Sang kodok eh maksudnya sang penyiar radio itu sedang menceritakan sebuah hikmah melalui kisah hidup seekor elang. Dikisahkan oleh penyiar radio itu bahwa konon pada zaman dahulu kala di sebuah desa hiduplah seorang nenek yang sebatang kara … eh ngomong apa sih nih kok malah mendongeng, ngaco.

Jadi menurut penyiar radio itu, seekor burung elang memiliki usia yang cukup panjang. Usia seekor elang dapat mencapai 70 tahun. Sepertinya jarang sekali binatang yang dapat memiliki usia sepanjang ini. namun usia 70 tahun ini mesti dilalui oleh elang melalui sebuah fase yang unik yang bisa disebut fase reborn. Elang yang mampu melalui fase reborn ini dapat bertahan dan melanjutkan hidupnya sampai usia 70 tahun. Namun, elang yang tidak mampu melewati fase reborn ini bakalan punah dan mati.

Menurut penyiar radio itu, pada usia 40 tahun elang memasuki masa dewasa. Pada saat dewasa ini boleh dibilang semua anggota tubuhnya seperti paruh, kuku, dan bulu-bulunya telah mencapai pertumbuhan yang maksimal. Pada usia 40 tahun bulu-bulu elang telah lebat sempurna, paruh elang telah mencapai bentuk yang sempurna dan utuh, dan kuku-kuku elang pun telah mencapai panjang dan tajam yang maksimal. Namun, justru di saat anggota tubuhnya maksimal ini, elang menjadi lebih sulit untuk melakukan aktivitas sehari-harinya.

Paruhnya yang besar justru menyulitkannya untuk mencabik-cabik dan memakan mangsanya. Kuku-kukunya yang panjang justru menyulitkannya untuk menangkap mangsanya. Semua kesempurnaan dan kelengkapan bentuk fisik sang elang saat usia 40 tahun ini, justru membuatnya sulit untuk menyantap mangsanya. Hal ini juga berarti elang menjadi lebih sulit untuk bertahan hidup. Bagaimana mau hidup jika mau makan saja tidak bisa. Lalu bagaimana caranya elang itu bertahan hidup? Di sinilah letak tantanganya.

Rasa penasaran langsung memenuhi benak saya, saat mendengarkan paparan sang penyiar radio saat menceritakan kisah hidup sang elang. Kebetulan saya memang belum pernah mendapat info tentang kisah elang ini sebelumnya. Jadi, info ini memang begitu menarik dan menimbulkan rasa penasaran. Bagaimana cara elang itu bertahan hidup?

Saat memasuki usia 40 tahun dan menyadari kalo kemampuannya untuk menangkap mangsa dan memakannya menjadi lebih sulit, elang kemudian terbang ke puncak gunung. Di puncak gunung ini, elang kemudian mematuk-matukkan paruhnya yang panjang dan tajam ke bebatuan. Hal ini dilakukan sampai paruhnya yang panjang ini patah. Tentu saja ini menyakitkan sekali bukan?! Tapi ini mesti dilakukan untuk bertahan hidup. Dengan paruhnya yang patah, elang berharap paruhnya bisa tumbuh kembali. Dan dengan paruhnya yang tumbuh itu elang pun dapat kembali memangsa makanannya. Hmmm … bener juga ya?!

Demikian juga dengan kuku-kukunya dan bulu-bulunya. Elang mencabuti bulu-bulunya sendiri. Elang juga berusaha mematahkan cakar-cakarnya yang panjang! Tentu saja ini semua menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, bukan!? Namun sepertinya elang tidak memiliki pilihan lain. Hanya inilah satu-satunya cara supaya elang dapat kembali memiliki kemampuan untuk menangkap mangsa dan memakannya. Ini satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Luar biasa bukan?!

Setelah elang mematahkan paruh dan cakarnya sendiri, serta mencabuti bulu-bulunya, elang mesti menunggu selama lima bulan supaya paruh, cakar, dan bulunya tumbuh kembali. Setelah semuanya kembali normal, elang pun kembali seperti sedia kala dan siap untuk melanjutkan hidupnya. Elang telah melewati fase kritis dan seolah terlahir kembali. Inilah yang disebut dengan fase reborn.

Saat mendengar uraian dari penyiar radio ini saat menjelaskan bagaimana elang bertahan hidup, saya benar-benar terhenyak dan merenung. Seekor burung saja berusaha berubah dan mencoba beradaptasi terhadap kondisi yang menimpa dirinya. Sebuah pelajaran berharga saya dapatkan dari uraian tentang kisah sang elang ini.

Subhanalloh …

Lebih lanjut, penyiar radio itu memberikan gambaran tentang hikmah dari kisah sang elang. Bahwa hidup akan selalu mengalami fase perubahan. Barang siapa yang mampu menghadapi perubahan akan mampu bertahan hidup, namun barang siapa yang tidak mampu berubah kepunahan akan menantinya.

Kisah elang ini tentu saja bisa direfleksikan dalam kehidupan kita. Manusia akan menghadapi sebuah fase kritis. Fase kritis itu hanya bisa dilalui dengan mengubah cara hidup atau cara pandang kita terhadap hidup kita selama ini. dan, barang siapa yang dapat melewati fase kritis ini, dia akan mampu bertahan dan melanjutkan hidupnya.

Kisah inspiratif ini menjadi sebuah pelajaran berharga yang saya dapat sore itu. dan tak terasa waktu magrib pun telah tiba. Seteguk minuman pun cukup untuk membasahi kerongkongan yang kering ini. rasa syukur tak lupa selalu terpanjatkan kepada sang Maha kuasa atas segala kenikmatan yang selalu tercurah ….

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s