Kerusakan Akibat Ulah Manusia Sendiri

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)

Pernyataan di atas adalah bunyi salah satu ayat al-Quran Surat ar-Rum (30) ayat 41. Ayat yang singkat namun penuh makna. Saya ingin mengajak kita semua untuk merenungi ayat Quran yang penuh makna (pastinya semua ayat dalam al-Quran penuh makna juga sih) ini dan berusaha mengambil pelajaran untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam ayat yang dituliskan di atas, sangat jelas dinyatakan bahwa kerusakan yang timbul disebabkan tidak lain oleh perbuatan manusia sendiri. Dalam melihat kerusakan ini tentu ada banyak bentuknya. Kerusakan dapat berupa kerusakan lingkungan dan bencana alam yang bisa digolongkan dalam bentuk kerusakan fisik. Kerusakan juga bisa dilihat dalam bentuk kerusakan moral yang ditandai dengan diabaikannya aturan hukum dan aturan Allah, manusia bertingkah laku yang mengabaikan segala aturan dan cenderung bebas tanpa aturan.

Dalam dimensi lain, kerusakan juga bisa berupa tingkah laku yang koruptif dan manipulatif yang melanda aparat negara, birokrasi, dan para pemimpin di setiap bidang kehidupan. Bisnis dan ekonomi dijalankan dengan penuh keserakahan dan tanpa adab dengan melakukan berbagai kecurangan dan menghalalkan segala cara.

Inilah sebagian dari banyak kerusakan yang ada yang mungkin tidak cukup waktu dan tempat untuk menuliskannya.

Dari ayat itu, segala kerusakan tak lain merupakan ulah perbuatan tangan manusia sendiri. Jadi, perlu disadari bahwa manusia dan diri kita sendirilah yang pada hakikatnya telah menyebabkan terjadinya kerusakan-kerusakan itu (astagfirullahalazim). Bisa jadi selama ini kita secara tidak sadar telah banyak melakukan maksiat secara sengaja atau tidak sengaja dan secara sembunyi atau terang-terangan. Inilah yang perlu menjadi bahan renungan bagi kita semua.

Saatnya kita bertanya kepada diri sendiri apakah yang selama ini dilakukan sudah sesuai dengan tuntunan kitab suci dan agama kita. Agama mengajarkan kita untuk saling mengasihi sesama manusia. Agama mengajarkan kita untuk mengasihi fakir miskin dan anak yatim. Sedikit saja kita menggunakan uang kantor untuk kepentingan pribadi, itu sudah merupakan perbuatan zalim.

Bisa jadi selama ini kita sudah bertindak zalim baik kepada orang lain dan bahkan kepada diri sendiri. Masihkah ada rasa bersalah saat kita menyia-nyiakan waktu dan bahkan uang yang diamanahkan kepada kita dari kantor atau instansi pemerintah tempat kita berkarya?

Memang terlihat sangat remeh dan kecil, tapi maksiat dan kerusakan sekecil apapun bisa jadi besar dan bisa jadi akan menggerogoti amalan kita.

Pantaskah kita masih mencari-cari alasan dan menimpakan kesalahan kepada orang lain atas kebodohan dan ketidaksadaran kita sendiri? Kadang kita akan lebih mudah melihat kesalahan kecil orang lain daripada kesalahan akibat kebodohan dan arogansi kita sendiri.

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

Dan apa saja musibah yang menimpamu maka itu disebabkan oleh perbuatan dosamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). -QS asy-Syuura: 30-

Dan bila dikatakan kepada mereka, “janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab, “sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengadakan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan tapi mereka tidak sadar. (QS al-Baqarah: 11-12)

Saat ini banyak sekali orang-orang atau pejabat dan pemimpin yang dengan lantang mengatakan bahwa mereka atau kelompoknya telah banyak berbuat kebaikan. Padahal banyak yang justru merasa mereka itu yang berbuat kerusakan.

Banyak politisi dan kalangan partai yang tanpa malu-malu menyebut jasa-jasa mereka, padahal justru saat ini banyak kerusakan yang disebabkan oleh perbuatan mereka. Perbuatan mereka yang tidak profesional dalam menempatkan wakil-wakil dan pemimpin-pemimpin daerah. Kasus korupsi dan kebocoran anggaran sesungguhnya bermula dari sini.

Banyaknya politisi yang tersangkut kasus korupsi tapi terus menerus ditolak oleh partai yang secara arogan dan pongah tidak pernah mau mengakui kesalahan dan kelemahan mereka. Justru tuduhan dan kesalahan ditimpakan kepada pihak lain dengan dalih konspirasi.

Dalam ayat di atas dinyatakan pula bahwa kerusakan itu juga sekaligus sebagai harga yang perlu dibayar manusia atas perbuatan buruknya itu. Kerusakan itu tentu menjadikan kehidupan manusia menjadi tidak nyaman. Dan memang itulah akibatnya. Dengan kata lain, seolah Allah ingin mengatakan bahwa kalau ingin hidup nyaman, maka hiduplah dengan baik tanpa melakukan kerusakan. Kerusakan hanya akan merusak kehidupan kita sendiri.

Semoga bisa menjadi hikmah dan pelajaran buat kita ….

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s