Sisi Lain #BukanUrusanSaya

Beberapa waktu lalu, istilah “bukan urusan saya” menjadi istilah yang cukup populer. Hestek #BukanUrusanSaya pun sempat menjadi trending topic di media sosial khususnya twitter. Istilah ini dipicu oleh sikap presiden Jokowi yang dianggap selalu menggunakan istilah ini tiap kali ditanya tentang berbagai masalah yang terjadi. Jawaban dengan istilah “bukan urusan saya” ini dianggap jawaban yang tidak pantas dan tidak mencerminkan sebuah sikap yang bertanggung jawab yang menyebabkan timbulnya ketidakpuasan dari sebagian masyarakat. sindiran dan ungkapan-ungkapan sarkastis dalam berbagai bentuk (seperti meme) pun merebak di media sosial dengan menggunakan hestek ini. Pun sikap tidak bertanggung jawab dari siapa saja langsung diidentikkan dengan istilah “bukan urusan saya” ini.

Apakah istilah “bukan urusan saya” ini memang layak dan dapat selalu diidentikkan sebagai sebuah sikap masa bodoh, cuek, lepas dari tanggung jawab, dan tidak pantas dimiliki oleh pemimpin? Atau, justru ini sebagai bentuk pembagian dan pemerataan tanggung jawab dari pemimpin kepada pihak lain yang lebih kompeten dan bentuk manajemen tugas kepada pihak-pihak yang lebih berwenang menyelesaikannya?

Bagi orang yang sudah diberi tanggung jawab untuk menyelesaikan sebuah tugas, penggunaan istilah “bukan urusan saya” untuk menjawab pertanyaan atas sejauh mana tanggung jawabnya sudah dilaksanakan, tentu merupakan sikap yang tidak bertanggung jawab dan tidak pantas. Namun, buat pemimpin yang sudah membagi dan menyerahkan berbagai tugas dan wewenang yang berbeda kepada orang-orang (bawahan/pembantu)-nya, penggunaan istilah ini bisa dipahami sebagai sikap pemimpin yang berusaha mengambil posisi bukan pihak yang secara langsung punya akses untuk mengambil kebijakan atau memutuskan perkara tersebut karena sudah mendelegasikan wewenangnya kepada bawahannya.

Jadi semisal di suatu daerah ada keluarga yang kelaparan, tentu tanggung jawab tidak sepenuhnya menjadi beban gubernur (misalnya) karena bisa saja gubernur memiliki bawahan bupati/walikota, camat, dan lurah yang lebih mengetahui wilayah tersebut dan memiliki akses langsung ke daerah tersebut.

Sebagai contoh yang lebih hangat, apakah sikap presiden yang seolah berlepas diri dalam kasus KPK-Polri sebagai sikap yang tidak bertanggung jawab dan sekali lagi menunjukkan “bukan urusan saya”? menurut saya, ini justru sikap yang tepat dan menunjukkan presiden tahu diri dengan tidak melakukan intervensi. Pemimpin tentu saja tidak berhak menggunakan kekuasaannya secara tidak terbatas. Pemimpin yang baik tidak membebankan semua tanggung jawab di pundaknya tetapi mendelegasikan tugas dan wewenang kepada orang lain. Pemimpin yang tahu diri terkadang juga perlu tidak terlalu ikut campur dalam urusan yang bukan wewenangnya (karena sudah didelegasikan). ketika ada yang tidak beres di satu unit tugas, tentu yang pertama perlu dipertanyakan adalah orang-orang yang bertanggung jawab di unit tersebut. Ini adalah sesuatu yang wajar dan sudah menjadi prosedur standar dalam manajemen.

Tetapi memang di masyarakat umum, sikap cuek sangat sering dianggap sebagai sebuah sikap berlepas diri dari suatu beban/kewajiban atau sikap tidak bertanggung jawab. Padahal kadang sikap cuek bisa juga dipahami sebagai sikap tahu diri, tidak ikut campur dalam urusan yang memang bukan wewenangnya, tidak berusaha #kepo (sikap ingin tahu), dan lain-lain.

follow me @bysph

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s