Islam Tidak Akan Tegak Melalui Politik (bag. 1)

Diskursus yang membahas kaitan Islam dan politik sudah banyak dibahas dan tampaknya akan terus menjadi pembahasan yang tak ada habis-habisnya untuk diperdebatkan. Penulis sadar akan sensitifitas permasalahan ini untuk dikemukakan secara publik. Hal ini mengingat Islam sebagai agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Kesadaran untuk berIslam juga sedang tumbuh di sebagian masyarakat. kesadaran berIslam ini diikuti dengan tuntutan untuk memahami Islam secara kaffah yang belakangan ini mulai digaungkan di bumi nusantara ini. Tuntutan pemahaman Islam yang kaffah itu salah satunya dengan partisipasi umat Islam dalam kancah politik nasional yang ditandai dengan munculnya partai-partai politik berbasis Islam.

Latar Belakang Munculnya Partai Politik Islam

Dalam konteks memahami Islam secara kaffah ini, menuntut umat Islam untuk ikut dalam aktivitas politik. Umat Islam dituntut untuk bukan lagi sekadar menjadi objek dari berbagai konsekuensi dari aktivitas politik tadi, yaitu hanya sebagai pihak yang memilih wakil-wakil di posisi-posisi strategis baik di eksekutif maupun legislatif. Umat Islam dituntut juga untuk menduduki posisi-posisi strategis tersebut, dengan ikut memasok wakil-wakil dan pemimpin-pemimpinnya untuk ikut dalam kompetisi memperebutkan posisi-posisi itu. Untuk tujuan ini, maka bermunculanlah parpol-parpol berbasis Islam dalam kancah politik nasional.

Kesadaran dan cita-cita mulia umat Islam ini melalui kelompok-kelompok dakwah, untuk mendudukkan wakil-wakilnya di eksekutif dan legislatif, tentu saja merupakan sebuah kemajuan besar buat umat Islam. Bahkan bukan hanya umat Islam saja, secara nasional ini merupakan sebuah kemajuan besar. Bahwa sejarah telah banyak mencatat, kepemimpinan dan kekuasaan Islam sudah membuktikan dapat memberikan keadilan dan kemakmuran bukan saja kepada umat Islam sendiri tetapi juga untuk seluruh masyarakat yang bernaung dalam wilayah kekuasaannya tersebut.

Dengan mayoritas penduduk Indonesia yang memeluk Islam ditambah dengan makin tumbuhnya ghiroh masyarakatnya untuk berIslam secara kaffah, sudah barang tentu peluang partai politik Islam sebagai representasi perjuangan politik umat Islam untuk tumbuh dan mendapatkan dukungan yang luas menjadi sangat terbuka.

Partai Islam bukan Pilihan Umat Islam

Namun, kenyataan tak seindah harapan dan hitung-hitungan di atas kertas. Kenyataannya adalah semenjak reformasi bergulir dan dimulainya era keterbukaan yang ditandai salah satunya dengan pemilu multi partai, belum ada satu pun partai politik Islam yang memperoleh dukungan atau suara terbanyak.

Hasil pemilu sebagai indikasi dukungan politik sejauh ini tidak pernah menempatkan partai politik Islam sebagai institusi politik yang mendapat dukungan paling besar. Ini juga berarti sebagian besar umat Islam sendiri masih belum melihat partai politik Islam sebagai representasi mereka di legislatif dan eksekutif. Tentu saja ini merupakan sebuah ironi. Mayoritas masyarakat yang sedang tumbuh kesadaran Islamnya tetapi belum mau diwakili oleh wakil-wakil dari umat Islam sendiri.

Sebagian pelaku dan aktivis partai politik Islam bisa saja dengan mudah mengklaim bahwa kesadaran berIslam belum tumbuh dan berkembang secara merata di seluruh lapisan masyarakat. Harus diakui memang tren gaya hidup yang Islami lebih banyak terjadi dan dimulai dari kampus-kampus dan kota-kota besar. Selain itu, gaya hidup Islami memang masih terbatas dan lebih banyak berkembang di kalangan usia muda. Wilayah dakwah yang sempit dan terbatas inilah yang sering dijadikan alasan bagi aktivis partai politik Islam untuk menjawab kurangnya dukungan dan tidak signifikannya hasil pemilu dari partai politik Islam.

Tren dukungan terhadap institusi politik Islam dalam empat kali pemilu bisa dikatakan cenderung stagnan dan bahkan bisa jadi akan menurun. Fenomena ini patut menjadi perhatian sekaligus keprihatinan. Cita-cita mulia untuk bisa membawa Islam lebih eksis dalam kancah perpolitikan nasional sepertinya masih jauh panggang dari api. Bukan saja tidak bisa eksis, bisa jadi Islam malah akan semakin terpuruk seiring dengan terpuruknya partai politik Islam.

Politik Islam identik dengan penegakan syariat Islam

Faktor yang tidak kalah dominan dalam menjadikan partai politik Islam dan karenanya juga politik Islam tidak berkembang adalah adanya kekhawatiran bahwa politik Islam yang diusung oleh partai politik Islam punya tujuan akhir menerapkan hukum Islam. Dan kekhawatiran ini justru timbul dari sebagian besar kalangan dari umat Islam sendiri.

Penegakan hukum Islam sudah menjadi sebuah perdebatan yang panjang di kalangan umat Islam sendiri. penegakan hukum Islam diyakini oleh sebagian kalangan umat Islam sebagai sebuah tuntutan dari Islam yang kaffah. Kelompok Islam yang meyakini prinsip ini sering disebut sebagai fundamentalis dan radikal. Karena tidak dipungkiri bahwa penegakan hukum Islam akan berbenturan dengan konsep NKRI sehingga bisa mengancam keutuhan bangsa yang sudah menyepakati pancasila dan UUD 45 sebagai dasar negara.

Menggunakan politik dan kekuasaan sebagai sarana untuk mewujudkan konsep dan obsesi dari kelompoknya memang bukanlah sesuatu yang tabu. Kekuasaan politik sering kali memang menjadi proyek implementasi dan kepentingan dari institusi politik yang memperolehnya. Meski dalam wujud dan tampak luarnya, institusi politik ini selalu menggembar-gemborkan atas nama rakyat. Tetapi kepentingan kelompoknyalah yang sering kali dijalankan ketimbang menjalankan kepentingan rakyat banyak.

Kehadiran partai politik Islam dianggap banyak kalangan sebagai wujud untuk mengimplementasikan hukum-hukum Islam dalam negara. Ketika kekuasaan politik itu dimenangkan dan akhirnya dimiliki oleh politik Islam, tentu peluang untuk mengimplementasikan hukum Islam sangat terbuka. Dan jika kekuasaan ini dimanfaatkan, tidak ada kekuatan yang bisa mencegah. Ini bisa jadi salah satu kekhawatiran yang mengiringi munculnya kekuatan politik Islam.

Walau bagaimana pun, penegakan hukum Islam merupakan salah satu alasan keterlibatan Islam dalam politik dan merupakan salah satu tuntutan Islam yang kaffah. Ini juga salah satu tema dan alasan dalam memilih partai politik Islam. Partai politik Islam tentu ingin mewujudkan salah satu aspirasi dari pemilihnya ini.

Meski tampak sebagai sebuah pemaksaan kehendak, karena belum tentu disepakati oleh semua kelompok dan golongan, menerapkan hukum Islam melalui prosedur semacam ini mungkin dan sah dilakukan. Kelompok yang menentang dengan mudah bisa diabaikan karena dianggap minoritas. Tapi, apakah menegakkan hukum Islam dengan cara seperti ini layak dan bisa menjamin kebaikan buat semua golongan?

(bersambung)

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s