Islam tidak akan tegak melalui politik (bag 2)

Mengaitkan gerakan politik Islam dengan usaha menegakkan hukum Islam umum terjadi di seluruh negara muslim. Gelombang demokratisasi di Turki, mesir, negara-negara Arab, dan lain-lain juga selalu menyelipkan kisah yang sama: kemunculan kekuatan politik Islam selalu dikhawatirkan sebagai bangkitnya kelompok-kelompok Islam yang ingin menegakkan hukum Islam.

Pengalaman Ikhwanul Muslimin di Mesir

Salah satu pelajaran besar buat umat Islam di seluruh dunia dalam upayanya berpartisipasi dalam politik adalah pengalaman Ikhwanul Muslimin di Mesir. Ikhwanul Muslimin melalui partai kebebasan dan keadilan memenangkan pemilu di Mesir pada 2011 dan diikuti dengan memenangkan pemilihan presiden 2012 yang membawa salah satu kadernya, yaitu Muhammad Mursi, menjadi presiden Mesir. Kemenangan Ikhwanul Muslimin ini sering dijadikan sebuah contoh kebangkitan kekuatan politik Islam.

Ikhwanul Muslimin selama ini memang dianggap sebagai salah satu pelopor dan inspirator gerakan Islam di seluruh dunia. Keterlibatan Ikhwanul Muslimin dalam politik Mesir sebenarnya sudah sangat lama dengan cara mendudukkan orang-orangnya di legislatif melalui jalur independen. Sebelum 2011, Ikhwan memang belum secara terbuka menunjukkan keberpihakannya dalam politik. Baru setelah demokrasi multi partai dimulai, Ikhwan ikut dalam pemilu melalui sayap politiknya yaitu Partai Kebebasan dan Keadilan.

Belum sempat hilang euforia atas kemenangan politik Islam di Mesir melalui keberhasilan Ikhwan menduduki posisi strategis dalam pemerintahan Mesir, dunia Islam harus menerima kabar buruk dan kenyataan pahit bahwa pemerintahan Mesir pimpinan Ikhwan harus terguling oleh kudeta militer pada 2013. Hanya setahun setelah Mursi terpilih menjadi presiden. Dan, ini adalah untuk kesekian kalinya dalam sejarah dunia di mana kekuatan politik Islam yang mulai berkembang diredam dengan penggunaan kekuatan militer yang tidak siap atas kebangkitan kekuatan Islam itu.

Sebuah analisis mengatakan bahwa salah satu penyebab kudeta militer atas pemerintahan yang dipimpin oleh Ikhwan adalah membentuk konstitusi baru Mesir dan meminta dukungan rakyat melalui referendum. Ikhwan yang memang sangat kuat membawa nilai-nilai Islam mencoba membentuk sebuah konstitusi baru yang mengakomodasi Islam dalam kehidupan masyarakat Mesir. Upaya ini, seperti yang diduga, dianggap sebagai sebuah upaya Islamisasi Mesir dan karenanya dijadikan alasan untuk menjatuhkan pemerintahan Mesir pimpinan Ikhwan.

Upaya Islamisasi melalui pembentukan konstitusi ini pulalah yang membedakan nasib pemerintahan pimpinan Ikhwan di Mesir dengan pemerintahan Erdogan di Turki. Meski sama-sama membawa napas Islam yang kuat dalam pemerintahan, Erdogan dapat bertahan lama dalam menjalankan pemerintahan di Turki dibandingkan Mursi, yang dibackup Ikhwan, di Mesir.

Membuat sebuah terobosan baru dengan berusaha mengubah konstitusi (yang lebih mengakomodasi nilai-nilai Islam) memang sebuah jalan yang penuh risiko. Meski terobosan ini bisa membawa nilai-nilai Islam lebih banyak ke dalam kehidupan negara, tapi tentu upaya ini tidak mudah dan menimbulkan friksi dari kelompok lain yang tidak sepakat. Dalam kondisi ini, militer bisa saja melakukan intervensi. Kerugian semacam ini justru bisa membuat kondisi menjadi lebih buruk buat kekuatan politik Islam.

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s