Cukup

​Sore itu Muthy kedatangan tamu. Adik kelasnya yang kebetulan sedang bersilaturahmi ke rumahnya. Mereka bercengkerama di teras rumah Muthy. 

Teras rumah Muthy terasa amat teduh dan sejuk sore itu yang diiringi dengan sapuan angin sore yang begitu lembut. 

Suasana ini begitu tenang setenang hati Muthy dan Kayla, adik kelasnya. Namun, tidak demikian dengan obrolan mereka yang begitu riuh rendah.

Namanya juga ibu-ibu kalo lagi ngobrol dan ngegosip … seru abis deh. Ditambah lagi dengan tingkah polah bocah-bocah yang sedang bermain di halaman rumah. Suara deraian tawa Muthy diselingi dengan teriakan histeris bocah-bocah yang berlari kesana kemari. Begitu meriah suasana sore yang tenang itu.

“Wah .. mbak Muthy udah enak ya. Punya rumah sendiri. Anak-anaknya dah gede dan lucu-lucu,” kata Kayla melihat suasana meriah di rumah Muthy.

“Alhamdulillah udah banyak diberi rizki dan kemudahan dari Allah. Makanya La, nikah donk. Menurut sunah nabi, menikahlah maka kamu akan kaya,” kata Muthy menanggapi. 

“Nah, cobalah mengikuti sunah nabi itu.” lanjut Muthy.

“Saya sih sebenernya udah pengen mengamalkan sunah nabi itu tapi kok belum berjodoh ya,” ujar Kayla. 

“Makanya saya silaturahmi ke tempat mbak, sekalian nanya-nanya, siapa tau ada udang di balik rempeyek .. he he he .. tau kan maksud saya Mbak,” lanjut Kayla mulai mengutarakan maksud-maksudnya yang tersembunyi.

“Yes yes I know what you mean,” kata Muthy sambil mencoba cas cis cus beringgris ria walaupun masih belepotan. 

“Don’t worry be happy … he he .. eh maksudnya mbak ngerti kok dik,” lanjut Muthy.

“Sebenarnya mbak punya beberapa kenalan ikhwan, eh kamu mencari yang ikhwan khan,” kata Muthy mencoba lebih detil ke masalah yang lebih fokus lagi.

“Ya iya lah Mbak, masa mau sama akhwat … emang saya cewe apaan … he he he,” kata Kayla. “Saya sih ngga usah muluk-muluk deh mbak asalkan cocok,” lanjut Kayla lagi.

“Ha ha .. jadi kamu maunya sama ikhwan yang seperti apa,” tanya Muthy kepada Kayla.”Pertama, dia harus cowok tulen .. hihi .. alias ikhwan. dan ngga gokil .. he he,” kata Kayla masih iseng dan bercanda. 

“Ok deh, saya ngga terlalu masalah sih yang penting cocok dan cukuplah,” lanjut Kayla.”Maksud saya cukup buat beli mobil, cukup buat beli rumah, cukup buat naek haji, he he he … ada ga yah,” kata Kayla sambil cengengesan. 

“Ga kok Mbak becanda .. tapi kalo ada mau banget tuh … xixixi,” masih dengan ekspresi Kayla yang tanpa beban tapi sedikit konyol.

“Ha ha … kamu bisa aja. Mau nyari enaknya aja ya. Tapi, jangan khawatir, banyak kok ikhwan yang kayak gitu,” kata Muthy sambil tertawa menanggapi guyonan adik kelasnya ini. 

“Cuma masalahnya ikhwan itu mau ga sama kamu .. he he he,” lanjut Muthy.

“Lagipula kayaknya ikhwan yang kayak gitu udah ada yang punya deh .. seperti yayang Mbak,” kembali Muthy meneruskan jawaban isengnya kepada Kayla.

“Walah .. bener juga ya Mbak,” ujar Kayla sambil tersipu malu.

Derai tawa mereka berdua masih berlangsung sampai saat Kayla pamit untuk pulang. Muthy pun berjanji mencarikan jodoh untuk Kayla, sedangkan Kayla mencoba sabar untuk tetap menunggu keputusan Allah. Karena Kayla sadar keputusan Allah-lah yang terbaik buatnya.

*Diposting ulang dari fb note*

Tulisan-tulisan yang lain ada di buku Transformasi Lorentz yang tersedia di nulisbuku.com

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s