Menyendiri pada Masa Fitnah

​Tulisan ini dibuat pd 14 Nov bersamaan dgn super moon.

Awalnya tulisan ini dibuat sebagai pelipur lara krn ga bisa liat super moon, tapi ternyata super moonnya keliatan jg (alhamdulillah ya (pake logat syahrini) ga jd lara).

Kalo mo dibilang pencitraan atawa (bkn otawa apalagi ozawa ya) pengalihan isu ya terserah aja jg sih (ngomong sih nya dipanjangin).

Kisah ini ogut ambil dari buku al-Bidayah wan-Nihayah karya Ibnu Katsir. Bukan buku sih tapi Ebook yg ogut unduh gratis aja gitu lho.

(Ebook gini cukuplah buat ogut yg sotoy ini (yg kalah jauh dgn jonru) yg baca buku buat sekadar bikin status/tulisan di medsos atw buat nyindir/nyinyir kpd lawan politiknya atw buat bikin pembelaan/legitimasi/pembenaran atas hal-hal yg dilakukan kelompoknya … Et dah ah ah.)

(Kebayang jg ga sih ulama2 jaman dulu yg susah payah mencurahkan waktu ilmu dan pikirannya unt nulis buku spy jd ilmu yg bermanfaat tapi malahan bukunya skg dibuat unt mendebat dan menyalah2kan pihak lain yg ga sepaham. bakalan nangis darah mrk kali ya … Apa sih ah.)

(Jadi mana kisahnya oneng …)

Kisah ini berlatar belakang perselisihan/konflik di kalangan sahabat nabi pasca kematian/terbunuhnya khalifah utsman bin affan.

Khalifah Ali yg baru terpilih mendapat banyak tekanan untuk segera menangkap dan menghukum para pembunuh utsman yg sdh diketahui banyak kalangan.

Namun khalifah Ali seolah tidak memprioritaskan pengusutan pembunuh utsman. Sikap ini oleh sebagian sahabat dianggap melindungi pembunuh utsman dan menimbulkan ketidakpuasan di kalangan Sahabat. Keadaan ini memicu konflik dan perbedaan pendapat yg berujung kpd terjadinya beberapa perang saudara … as we all know lah (ngomong gini sambil prihatin).

Masa ini dikenal sbg masa fitnah.

(Waduh serius amat bahasanya …)

Namun di tengah konflik dan fitnah itu, justru ada Sahabat nabi yg tdk ikut dlm konflik tsb. Dialah Sahabat saad bin abi waqqash ra. (Nama yg tdk asing buat aktivis dakwah era 90an krn nama ini jadi tokoh sentral dlm film qodisiyah)

(Oiya film qodisiyah ini boleh dibilang film syar’i yg wajib ditonton oleh aktivis dakwah masa itu di samping film ar-risalah sbg pembangkit semangat jihad)

(Emangnya skg, aktivis dakwah bebas keluar masuk bioskop buat nonton film Hollywood… Eh)

Saat konflik itu, putra beliau, Umar bin Sa’ad, datang menemui ayahnya Sa’ad bin Abi Waqqash yang sedang menggembalakan kambing-kambingnya di luar kota Madinah.

Demi melihat kedatangan putranya Sa’ad berseru, ‘Aku berlindung kepada Allah dari keburukan penunggang ini!’

Setelah menemuinya Umar bin Sa’ad (yaitu puteranya sendiri) berkata, “Wahai ayahanda, relakah engkau menjadi Arab badui bersama kambing-kambingmu sementara orang-orang berebut kekuasaan di Madinah?’

Maka Sa’ad menepuk dada puteranya itu sembari berkata, ‘Diamlah! Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bertakwa, merasa berkecukupan dan tersembunyi.

(Nah jadi paham khan kenapa Sa’ad bin abi waqqash memilih menyendiri di pojokan kota madinah.)

Gitu aja sih seupil (ih jorok) n secuil kisah sahabat, kalo mau direnungkan ya silakan kalo ngga ya kebangetan … Eh.

Jgn salahkan ogut jg kalo kisah ini dikaitkan dgn politik. Kan kelian sendiri yg bilang politik ga bisa dipisahkan dari agama.

Gimana, sotoy kan?

Oiya tentang film al-Qodisiyyah bisa liat infonya di: http://imdb.com/title/tt0328295/

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s