Transformasi Lorentz jilid 2

Sekarang kan lagi ngetren membuat sesuatu yang berseri dan berjilid-jilid. Sampai-sampai aksi Bela Islam dibuat beberapa jilid hehe.

Kebetulan juga โ€‹tulisan ini dibikin bersamaan dengan debat pilkada dki jilid 2. Ya, saya sama sekali ngga tertarik dengan pilkada dki karena sudah sangat muak dengan perdebatannya yang sudah memenuhi timeline medsos tiap hari. Selain itu saya juga ngga punya hak pilih karena bukan warga dki. Jadi kenapa harus ikutan rempong dengan tetek bengek pilkada dki yang ngga ada pengaruhnya with my life … Hehe.

(Sori paragraf di atas sekedar intermezzo aja atau curhat ya … Wkwk.)

Tulisan ini pada dasarnya sebuah tanggapan dan ekspresi yang saya tujukan buat salah seorang yang saya hormati, kagumi, dan banggakan yaitu mbak Aulia Halimatussadiah atau yang juga dikenal dengan nama pena atau nama di dumay Ollie salsabeela. Semoga beliau berkenan membaca tulisan saya yang sotoy ini dan mohon maaf juga kalo ada kesalahan penyebutan nama ya mbak… Hehe (yakin amat tulisan lo dibaca ama doski #eh). Semoga juga mbak Ollie berkenan dipanggil mbak padahal usia saya mungkin lebih tua hehe.

Mbak Ollie (begitu sapaan akrabnya) yang saya kenal adalah pendiri dan pemilik (atau apa ya istilahnya CEO gitu) dari nulisbuku.com, yang merupakan sebuah startup dalam bidang self publishing. Saya mengenal beliau sebagai sosok yang inspiratif. Kebetulan saya juga salah satu pengguna nulisbuku.com yang “menerbitkan” buku sekaligus menjual buku secara online via nulisbuku. 

Yang saya tau saat itu nulisbuku merupakan startup self publishing pertama yang mempelopori dan menginspirasi banyak orang untuk menerbitkan buku secara self publishing (dimana saya salah satunya๐Ÿ˜๐Ÿ˜Ž). Dari nulisbuku pula mbak Ollie dikenal publik dan mendapat berbagai apresiasi atas aktivitasnya. 

(Buku saya di nulisbuku: Transformasi Lorentz dan Teknologi dan Pilihan Hidup.)

Sebagai sosok yang saya kagumi, saya pun memfollow akun medsos beliau dari fb, twitter, dan instagram. Dari akun medsos beliau ini, saya bisa tau aktivitas dan apdet beliau. Dari apdetan beliau pula saya tau berbagai usaha lain yang berhasil dikembangkan beliau selain nulisbuku.

Sampai pada satu saat sekira setahun yang lalu saya dibuat cukup kaget tatkala melihat foto beliau di instagram yang tanpa hijab. Untuk lebih memastikan saya pun membuka profil beliau dan ternyata memang foto2 terakhir menunjukkan beliau sudah tidak berhijab. Reaksi saya saat itu, saya memutuskan untuk tidak memfollow lagi instagram beliau. Ini saya lakukan selain karena agak kaget dan agak kecewa, juga karena tidak siap melihat orang yang saya kagumi ini tampil tanpa penutup kepala sehingga terlihat lah apa yang selama ini tidak terlihat. Saya akui sejujurnya beliau punya penampilan yang menarik sehingga saya khawatir justru akan terpesona dan menikmati penampilan beliau seperti itu (duh mohon maap kalo bahasa saya seperti ini #eh).

Beliau tentu punya alasan atas keputusan itu dan saya sepenuhnya sadar akan hal ini sekaligus menghargai keputusan beliau ini.

Setelah lama tidak mengikuti instagram beliau dimana disinilah beliau aktif mempublikasikan aktivitasnya, saya jadi kurang banyak tau aktivitas beliau. Nama beliau pun sedikit pudar dari timeline saya. Tapi kekaguman saya tetap tidak berubah dengan perubahan ini. Sampai beberapa hari terakhir tiba-tiba nama beliau melintas dalam benak saya yang memancing saya untuk googling n kepoin nama beliau #eh.

Saya pun sampai ke tulisan beliau yang menjelaskan alasan membuka hijab sehingga menginspirasi saya membuat tulisan ini hehe.

Tulisan beliau itu bisa dibaca di sini dan di sini.

Kalo boleh saya berpendapat, sejujurnya saya memahami perubahan yang mbak Ollie alami karena saya pun pernah mengalami dan merasakan hal yang (mungkin) hampir mirip. Saya pernah memutuskan untuk berlepas diri dari dan meninggalkan rutinitas yang sudah bertahun-tahun saya jalanin. Bahkan bukan hanya rutinitas tapi juga cara pikir yang sudah lama saya percayai dan jalani. Bedanya saya ngga perlu lepas hijab hehe.

Dulu saya pernah menjadi bagian dari gerakan dakwah Islam (atau bisa juga disebut jamaah) dan akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menjadi bagian dari jamaah itu lagi.

Cerita tentang perubahan atau transformasi saya bisa dibaca di tulisan berjudul transformasi Lorentz.

Saya ngga menolak kalo dibilang sekarang lebih liberal namun bukan berarti saya benar-benar meninggalkan identitas dan sisi religius saya karena saya tetap menjaga dan menjalankan agama saya sebisa dan semampu saya. Buat saya yang pria tentu lebih mudah berubah menjadi moderat secara pemikiran dan penampilan karena tidak harus mengubah penampilan saya misalnya dengan melepas hijab. 

Perubahan yang saya alami juga tidak membuat saya meninggalkan semua tentang masa lalu saya karena walau bagaimana pun semua pengalaman itulah yang menjadikan saya seperti saat ini.

Saya menyebut keadaan dan pemikiran saya sekarang sebagai sikap moderat meski teman-teman sesama aktivis bisa jadi menyebut saya liberal. Dan menurut saya sikap moderat itu diperlukan dan merupakan sikap yang sesuai dalam beragama. 

(Oiya terkait dengan sikap moderat, saya pernah membuat tulisan ini: radikalisme, maicih, dan distribusi normal.)

Kalo boleh berpendapat tentang hijab, seliberalnya saya sekarang yang lebih bisa memandang dan menikmati lawan jenis dibandingkan dulu (upss), saya tetap menganggap berhijab itu sesuai fitrah wanita dan bukan membatasi gerak wanita. Hijab saya pahami bukan sekadar mode atau fesyen semata melainkan juga sebagai gaya hidup dan identitas wanita muslimah selain tentu saja syariat yang sudah termaktub dalam kitab suci (Al-Quran). Dan dalam pandangan saya juga justru wanita berhijab itu lebih seksi  karena tidak hanya menampilkan fisik tapi juga hati dan pikiran (upss lagi). 

(Tentang hijab saya juga pernah membuat tulisan ini: revolusi sosial dan fenomena hijab.)

Ini sekadar tulisan yang saya merasa punya pengalaman yang sama. Bukan berarti mendukung atau menolak lepas hijab, saya menghargai hal itu walaupun juga lebih senang melihat mbak Ollie dengan hijabnya hehe. Jangan khawatir mbak Ollie masih tetap sosok yang saya kagumi (buktinya saya mau nulis ini hehe).

Saya hanya bisa mendoakan semoga mbak Ollie selalu mendapat yang terbaik dalam kehidupannya. Mohon maaf kalo ada ungkapan yang kurang berkenan. Mohon maaf juga kalo belum bisa memfollow instagramnya karena khawatir khilaf dengan pesonanya hehe. Semoga makin sukses dengan usaha dan hasil karyanya. Semoga selalu dan tetap menginspirasi melalui prestasi dan karyanya.

Advertisements

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s