​Ngukur Jalan 2 (edisi ekstrem)

Ekstrem, nekat, maksa, gempor. 

Empat kata ini sepertinya cocok buat menggambarkan aktivitas gowes campur dorong/nuntun pada sabtu 25 Februari 2017 lalu.

Pagi itu, sabtu, ogut bangun pagi dengan hati berbunga karena hari itu adalah hari yang ditunggu-tunggu. Rencana untuk gowes dengan rute baru yang sudah direncanakan selama seminggu membuat rasa penasaran yang begitu menggebu.

Rute yang akan ogut tempuh ini memang rute baru (blm pernah ogut lewatin sebelumnya) yang amat menantang karena jarak tempuhnya yang cukup jauh dan rutenya yang tidak biasa.

Ide untuk menempuh rute ini ogut dapat dari blog walking berisi pengalaman pesepeda lain dan juga dengan melihat Google maps serta streetview.

Rute ini melalui jalur berbukit dengan tanjakan dan turunan di sepanjang jalurnya. Dari beberapa pengalaman pesepeda lain di blognya, mereka pernah melalui jalur ini dengan berbagai kisah mereka masing-masing.

Buat ogut ini tentu sebuah pengalaman baru sehingga rasa penasaran dan excited terus membayangi pikiran ogut selama seminggu.

Jam 7an sabtu pagi itu yang alhamdulillah cukup cerah dan mendukung cuacanya, ogut berangkat melalui jalur biasa ke arah babakan madang Sentul.

Berangkat masih segar

Sampai di jalan arah ke gunung pancar, ogut belok kiri ke arah karang tengah. Jalur ini sampai ke arah cibadak sukamakmur yang bisa ke arah jonggol.

Turunan dan tanjakan tajam langsung menemani perjalanan ogut sepanjang jalur ini. Di awal menempuh jalur ini ogut masih kuat dan juga masih wajar jalurnya. Tanjakan tajam pertama menghadang selepas melewati jembatan pertama (dari tiga jembatan), membuat ogut harus turun dan menuntun sepeda melewati tanjakan ini.

Satu tantangan ini ternyata sudah membuat stamina dan dengkul begitu down dan terkuras. Tanjakan pertama ini ogut lalui dengan menuntun sepeda sampai di atas. 

Jalur tanjakan dan turunan tajam akhirnya ogut lalui sampai 3 kali (ada 3 jembatan). Terbayang kan tiga kali harus nuntun sepeda melewati tanjakan yang tajam.

Catatan waktu menjadi tidak relevan karena ogut cuma kepikiran gimana caranya melewati jalur ini secepatnya dengan selamat. Balik ke jalur semula pun percuma karena pasti akan melewati jalur yang sama ekstemnya. Jadi ogut cuma berpikir gimana menjaga stamina supaya tetap kuat terus ke depan.

Selain jalurnya yang ekstrem dengan turunan dan tanjakan yang cukup curam, untungnya sepanjang perjalanan ogut disuguhi pemandangan yang ekstrem (alias indah) juga. Thanks God, subhanallah walhamdulillah! 

Perbukitan dan lembah di kanan kiri jalan sedikit membuat hati sejuk.

Sepanjang jalur babakan madang-karang tengah-cibadak ini terdapat beberapa spot curug atau air terjun dan sungai dengan batu-batu yang bisa jadi tempat bermain dan berfoto atau selfie.

Memasuki kawasan perhutani dengan berbagai spot air terjun

Persawahan
Dataran tinggi
Aliran sungai terlihat dari ketinggian
Katanya sih rest area buat goweser atau pesepeda
Beberapa titik jalan rusak dan berlumpur
Salah satu spot bagus buat foto-foto
Salah satu anugerah setelah melewati tanjakan disuguhi pemandangan yang menyejukkan

Jembatan ciherang dicapai setelah melewati turunan yang curam
Arus sungai yang deras dilihat dari atas jembatan ciherang
Jangan terlena karena tanjakan curam menanti di depan 😱😰😓
Sekadar lewat
Napas sudah ngos-ngosan tapi jalan masih panjang 🤒😵😧
Setelah turunan terjal sampailah di sini

Bisa main air di sini

Setelah jembatan cileungsi ini kita tinggal melewati tanjakan terakhir sebelum sampai di cibadak. What tanjakan lagi?!?! Dengkul dah mau copot rasanya.

Selepas waktu zuhur karena sebelumnya sayup-sayup ogut dengar suara azan, akhirnya sampai juga ogut di pertigaan cibadak. Di sini jalan bercabang dua ke arah citeureup dan jonggol.
Yeah thanks God jalur ekstrem sudah terlewati!

Pemandangan di sekitar pertigaan cibadak

Dengan mengambil arah citeureup artinya ogut mengambil jalur kembali pulang.

Jalur sepanjang arah menuju citeureup dari cibadak ini banyak dihiasi turunan sehingga cukup mudah tapi jangan mudah terlena juga karena di beberapa titik terdapat tanjakan yang membuat ogut perlu turun dan menuntun sepeda. Ini salah satunya disebabkan stamina yang sudah sangat terkuras dan fisik sudah sedikit gempor.

Perbatasan kecamatan sukamakmur
Serasa melihat tebing kapur di harau payakumbuh


Saat memasuki daerah tajur citeureup ogut merasa seperti kembali ke peradaban manusia setelah sebelumnya seperti melewati wilayah antah berantah yang berisi hutan dan bukit terjal.
Di daerah tajur ini ogut mampir di indomaret untuk beli roti dan minuman juga mampir ke masjid untuk isoma istirahat solat makan (roti) dan bersih-bersih diri.

Selepas tajur sampai citeureup jalur sudah seperti biasa dengan ditemani keriuhan jalan raya. Dari citeureup lanjut ke cibinong dan ke Depok via cilodong. Selepas azan asar sampailah ogut kembali di rumah. 
Home sweet home. 

Sebuah pengalaman bersepeda dan berpetualang yang tak terlupakan.

Ucapan terima kasih juga kepada pesepeda yang bersedia memberikan pelumas buat rantai sepeda ogut saat bertemu di jalan raya Bogor arah Sentul pas berangkat.

Kesimpulan: jarak gowes +/-66 km.

Advertisements

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

2 thoughts on “​Ngukur Jalan 2 (edisi ekstrem)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s