Jalan Terjal Ridwan Kamil (bagian 1 dari 2 tulisan)

Beberapa waktu yang lalu, jagat politik nasional sedikit dikejutkan dengan langkah walikota Bandung yang sangat terkenal dan menjadi idola anak muda, siapa lagi kalo bukan Ridwan Kamil yang juga akrab dipanggil Kang Emil, yang mendeklarasikan pencalonannya untuk  pilkada Jawa Barat 2018 yang diusung oleh Partai Nasdem.

Banyak kalangan bereaksi atas langkah politik Kang Emil ini. Seperti biasa, reaksi yang datang terbelah antara yang pro dan yang kontra atas keputusan ini.

Ihwal Kang Emil yang memilih maju dengan dukungan partai nasdem ini yang banyak menuai kontra, kekecewaan, dan bahkan juga sentimen terhadap Kang Emil dan menyayangkan keputusan yang dianggap terlalu cepat ini.

Sumber: cetroasia.com

Salah satu sumber kekecewaan itu ada pada syarat, kontrak politik, atau kesepakatan yang kabarnya terjalin antara Kang Emil dan partai nasdem di balik dukungan partai nasdem dalam pencalonan Kang Emil untuk pilkada jabar 2018. Setidaknya ada tiga syarat yang disepakati antara surya paloh sebagai ketum partai nasdem dan Kang Emil berdasarkan artikel di metrotvnews ini yang salah satunya banyak ditafsirkan berupa dukungan terhadap jokowi pada pemilu 2019 mendatang.

Politisi dari partai gerindra, sebagai salah satu partai pendukung Kang Emil saat maju sekaligus menang dalam pilkada Bandung 2013, yaitu Fadli Zon adalah salah satu pihak yang ikut mengungkapkan rasa kecewanya terhadap langkah politik Kang Emil ini. Fadli Zon dan gerindra kecewa terhadap Kang Emil yang memilih sekaligus menyetujui syarat dari partai nasdem untuk mendukung jokowi pada pemilu 2019 mendatang.

Padahal kontrak politik adalah praktik yang wajar dan biasa dilakukan oleh partai politik di Indonesia untuk mendapatkan dukungan.

Kontrak politik pernah disepakati oleh PKS dan SBY pada pilpres 2004 dan 2009, serta PKS dan foke-nara pada pilkada dki Jakarta 2012.

Bentuk kekecewaan lain dari partai gerindra juga datang dari sikap Kang Emil yang dianggap sering menolak untuk membantu partai misalnya ketidakbersediaan Kang Emil untuk menjadi tim sukses prabowo saat pilpres 2014.

Bentuk kekecewaan lain yang diungkapkan oleh netizen (terutama dari kalangan muslim) terhadap Kang Emil di antaranya karena menganggap partai nasdem bersama surya paloh dengan metro TV nya (banyak juga yang menyebut metrotipu 😁) tidak berpihak dan bahkan cenderung menyudutkan Islam melalui pemberitaan dan acaranya seperti dinyatakan dalam artikel di jawapos dan pikiran rakyat ini.

Tidak ketinggalan seorang jonru ginting, yang dikenal sebagai pihak yang beroposisi terhadap pemerintah jokowi, ikut menulis surat sebagai bentuk kekecewaan terhadap Kang Emil seperti diberitakan oleh tribunnews ini.

Namun demikian, ada pula pihak yang menganggap deklarasi pencalonan Kang Emil dengan diusung partai nasdem jauh-jauh hari seperti saat ini sebagai sebuah langkah yang tepat. Hal ini diungkapkan Oleh Toto Sugiarton dari paramadina seperti diberitakan di republika.

Kang Emil sendiri dari awal sudah siap dengan adanya penolakan ini sembari mengingatkan para followernya di media sosial untuk tidak mengaitkan pilkada jabar mendatang dengan panasnya pilkada DKI Jakarta yang baru saja usai. Kalo istilah kekiniannya sih move on.

Kekecewaan dan penolakan berbagai pihak atas pencalonan Kang Emil oleh partai nasdem memang tidak dilepaskan dari situasi politik yang panas akibat pilkada DKI Jakarta dan bahkan juga akibat pilpres 2014 lalu. Partai nasdem merupakan anggota koalisi pendukung pemerintahan jokowi yang menang pilpres 2014 dan juga pendukung ahok pada pilkada DKI Jakarta.

Pihak yang berseberangan (oposisi) dengan pemerintah jokowi selalu menggunakan isu bahwa jokowi beserta koalisinya berusaha menyudutkan Islam dan bahkan ingin menghidupkan lagi komunis yang merupakan musuh besar umat Islam dan pancasila. 

Saat pilkada DKI Jakarta lalu Ahok terkena kasus penistaan agama yang membuat partai pendukungnya termasuk partai nasdem mendapat cap dan stigma sebagai pendukung penista agama. Ditambah lagi stigma yang sudah lama beredar bahwa metrotipu eh metro TV memusuhi islam, semakin membuat sebagian umat Islam mempunyai resistansi terhadap nasdem.

Situasi masyarakat yang sudah kadung terbelah akibat pilpres 2014 dan pilkada DKI Jakarta 2017 ini tampaknya bakal terus dijaga oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk memenangkan calonnya. 

Ini juga sekaligus menjadi tantangan yang harus dihadapi dan didobrak oleh Kang Emil. Tantangan ini sekaligus juga merupakan jalan terjal yang mesti dilalui oleh Kang Emil dalam upayanya menuju kursi gubernur Jawa Barat.

Bersambung ke bagian 2

Advertisements

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

One thought on “Jalan Terjal Ridwan Kamil (bagian 1 dari 2 tulisan)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s