Jalan Terjal Ridwan Kamil (bagian 2 dari 2 tulisan)

Sambungan dari bagian 1

Jalan panjang dan terjal menghadang Kang Emil dalam usahanya menuju kursi gubernur Jabar.

Sebelumnya sudah disebutkan bahwa efek dari pilpres 2014 dan pilkada DKI Jakarta 2017 masih terasa dan bahkan akan tetap dijaga oleh pihak-pihak yang berkepentingan, yang dampaknya berupa resistansi terhadap NasDem dari sebagian umat Islam.

Hal yang patut diingat pula bahwa dukungan dari partai NasDem sendiri belum cukup untuk maju dalam pilkada/pilgub Jabar 2018 mendatang. Deklarasi pencalonanan Kang Emil tidak serta merta membuat Kang Emil melenggang bebas untuk menjadi cagub karena syarat untuk menjadi cagub adalah mengantongi dukungan minimal 20% perolehan kursi DPRD Jabar atau 25% perolehan suara parpol di mana NasDem hanya memiliki 5% kursi di DPRD Jabar.

Kondisi ini membuat Kang Emil dan NasDem mesti mencari dukungan dari parpol lain.

Pada praktiknya, mencari dukungan dari parpol lain bukanlah hal yang mudah.

Stigma negatif terhadap NasDem bakal menyulitkan Kang Emil untuk mendapatkan dukungan dari partai Islam seperti PKS yang dulu ikut memuluskan langkahnya menjadi walikota Bandung.

Partai Gerindra sendiri sudah menutup dukungan terhadap Kang Emil sebagaimana disampaikan oleh Fadli Zon.

Dukungan paling signifikan yang bisa memuluskan langkah Kang Emil bisa datang dari PDIP yang sempat juga menyebut kemungkinan untuk mendukung Kang Emil.

Kang Emil pasti sudah paham risiko dari dukungan NasDem dan PDIP yang bakal menimbulkan penolakan dari sebagian umat Islam.

Jika NasDem dan PDIP akhirnya yang jadi mendukung Kang Emil untuk maju sebagai cagub pada pilgub Jabar, penolakan terhadap Kang Emil bakal semakin menjadi dan situasi panas sebagai ekses lanjutan dari pilpres 2014 dan pilkada DKI Jakarta 2017 tak dapat terelakkan lagi. 

Jalan terjal pun membentang di depan Kang Emil.

Bayangan kampanye hitam yang brutal dengan menyelipkan unsur SARA bakal banyak berseliweran di berbagai media-media terutama media sosial untuk menyerang Kang Emil.

Jangankan nanti, saat ini pun Kang Emil sudah mulai diserang oleh isu-isu yang amat sensitif bagi umat Islam, yaitu syiah dan pembangunan rumah ibadah (gereja).

Dan ini bakal sangat menguras emosi, perasaan, dan energi. Perlu mental dan fisik yang kuat dan cerdas untuk menghadapi semua ini yang semoga bisa dihadapi oleh Kang Emil.

Saya sendiri salah satu yang antusias dan menyambut gembira atas kesiapan Kang Emil untuk maju dalam pilkada Jabar 2018 mendatang. 

Dan sebagai pemilik KTP Jabar, saya tentu amat berkepentingan dengan isu ini.

Berbagai pencapaian Kang Emil sebagai walikota Bandung meski tidak merasakan langsung efek sebagai warga yang dipimpin oleh Kang Emil, cukup untuk saya jadikan alasan untuk mendukung Kang Emil.

Saya akan menggunakan hak saya sebagai pemilih dan sebagai warga negara yang menginginkan pemimpin yang bisa membawa kemajuan bagi masyarakat dan lingkungan tempat saya tinggal. 

Dan dalam konteks inilah dukungan terhadap Kang Emil saya berikan.

Saya sungguh sangat menyayangkan pihak-pihak yang memanfaatkan isu-isu SARA dalam mencapai tujuan dan kepentingannya.

Jika pada akhirnya saya ikut terlibat aktif dalam diskusi (dan sepertinya cenderung kepada debat) di media sosial terkait pilkada Jabar 2018, ini semata sebagai salah satu ikhtiar dalam menggunakan hak politik dan kewajiban beramar makruf nahi munkar (cieee…).

Penggunaan isu SARA untuk memfitnah lawan politik serta caci maki dan ujaran kebencian (hate speech) dalam mendukung calonnya merupakan cara-cara yang sangat tidak bermoral.

Kampanye untuk mengurangi cara-cara tidak bermoral semacam ini adalah salah satu yang akan saya kedepankan terkait pilkada Jabar mendatang.

Cukuplah saya berdiam diri saat melihat pilkada DKI Jakarta yang teramat sangat brutal padahal pada saat yang sama hati saya begitu miris melihat begitu terkurasnya energi bangsa untuk sesuatu yang sebenarnya tidak memerlukan energi sebesar itu.

Saya mendambakan situasi politik yang sehat, riang gembira, serta penuh dengan ide dan karya sebagaimana pernah dikemukakan oleh salah seorang tokoh muda muslim inspiratif, Anis Matta.

Dan semoga dalam pilkada Jabar 2018, hal ini bisa dimulai. 

Semoga Kang Emil juga bisa melakukannya.

Advertisements

Published by

mas_bay

Everything happen for a reason. Life with a purpose

One thought on “Jalan Terjal Ridwan Kamil (bagian 2 dari 2 tulisan)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s