Analogi Konspirasi

โ€‹Ada analogi seperti ini:

Pada suatu petang menjelang malam, laron menyerbu suatu kampung. Karena tidak ingin rumahnya dipenuhi laron, biasanya tiap rumah mematikan lampu di rumahnya sehingga gelap menyelimuti kampung itu.  Continue reading Analogi Konspirasi

Advertisements

Menyendiri pada Masa Fitnah

โ€‹Tulisan ini dibuat pd 14 Nov bersamaan dgn super moon.

Awalnya tulisan ini dibuat sebagai pelipur lara krn ga bisa liat super moon, tapi ternyata super moonnya keliatan jg (alhamdulillah ya (pake logat syahrini) ga jd lara).

Kalo mo dibilang pencitraan atawa (bkn otawa apalagi ozawa ya) pengalihan isu ya terserah aja jg sih (ngomong sih nya dipanjangin). Continue reading Menyendiri pada Masa Fitnah

Makan di Jalan

โ€‹Pagi itu Robi sedang bersiap-siap pergi ke kantor. Pekerja kantoran seperti Robi yang ditinggal di pinggiran kota dan berkantor di tengah kota, memang harus selalu pergi ke kantor pagi-pagi sekali. Biar ngga terlambat sampai di kantor. Ini sudah seperti ritual yang harus dijalankan tiap pagi, setiap hendak pergi ke kantor.

Continue reading Makan di Jalan

Cukup

โ€‹Sore itu Muthy kedatangan tamu. Adik kelasnya yang kebetulan sedang bersilaturahmi ke rumahnya. Mereka bercengkerama di teras rumah Muthy. 

Teras rumah Muthy terasa amat teduh dan sejuk sore itu yang diiringi dengan sapuan angin sore yang begitu lembut. 

Suasana ini begitu tenang setenang hati Muthy dan Kayla, adik kelasnya. Namun, tidak demikian dengan obrolan mereka yang begitu riuh rendah.

Continue reading Cukup

Just another Mukidi story

โ€‹Kali ini mukidi (muda) sedang jatuh cinta kepada seorang gadis. Pada suatu malam, mukidi pun memberanikan diri mengirimkan sms kepada gadis itu untuk mengungkapkan isi hatinya.

Isi sms itu:

Aku sangat mencintaimu dan ingin menikahimu. Tolong balas ya dan & katakan bagaimana perasaanmu kepadaku.

Tak lama setelah mengirim sms, hape mukidi berdering pertanda ada pesan masuk. 

Mukidi menjadi sangat gugup dan berdebar-debar. Secepat inikah dia membalas sms ku dan mengungkapkan isi hatinya, demikian perasaan yang berkecamuk di hati mukidi. 

Karena belum siap membaca pesan sms itu, mukidi menyimpan hapenya dan pergi tidur. Besok saja mukidi membacanya.

Keesokan harinya, mukidi bangun dengan perasaan harap-harap cemas. Mukidi pun segera mandi dan merapikan diri agar benar-benar siap membaca sms balasan dari gadis pujaan hatinya.

Setelah rapi, Mukidi pun duduk dengan tenang dan mulai membaca sms itu.

Ternyata isinya:

Maaf pulsa anda tidak cukup untuk mengirimkan pesan ini. Silakan mengisi ulang pulsa anda.

*Gubrak. Mukidi pun tergeletak di lantai*

Qurban

Image
(sumber: sebuahkonsep.wordpress.com)

Nabi Ibrahim masih sedikit agak tidak percaya. Bisikan dalam mimpi itu terus menerus terngiang-ngiang di telinganya. Seakan bisikan itu baru saja didengarnya. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk di dalam dadanya. Mana mungkin aku menyembelih anakku sendiri? Ayah macam apa yang tega menyembelih darah dagingnya sendiri?

Terbayang pula dalam benak Nabi Ibrahim bagaimana dulu dia yang telah begitu lama mengharapkan kehadiran seorang anak. Anak yang akan menjadi penghias mata. Seorang buah hati yang akan menghiasi hari-harinya dengan penuh makna. Seorang anak yang akan menemaninya berdakwah kepada kaumnya. Seorang anak yang akan mewarisi tugasnya sebagai pemberi peringatan kepada kaumnya untuk menyembah kepada Allah saja.

Continue reading Qurban